Catatan Pendakian Gunung Slamet 3.428 MDPL via Bambangan dari Jakarta
Shandi Irawan
July 31, 2025 • 322 Views
Halo Sobattt!
Setelah kemarin kita bahas Lawu yang panjang tapi estetik, kali ini saya mau ajak kalian ke "Atap Jawa Tengah". Gunung Slamet! Gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa ini beneran kasih pengalaman yang sesuai namanya: bikin kita bersyukur bisa balik dengan "Slamet" wkwk.
Buat rombongan kami yang dari Jakarta, perjalanan 3 hari 4 malam ini penuh drama, mulai dari rebutan lahan tenda sampai banjir di tengah malam. Penasaran? Mari kita bahas!
Bagian 1: Grogol ke Purbalingga, Angin Sepoi di Atas Pick-Up
Perjalanan dimulai Kamis, 26 Juni 2025 pukul 21.00 WIB dari Terminal Grogol. beranggotakan 6 orang. Kami naik bus arah Bobotsari, Purbalingga.
Tiba di Terminal Bobotsari jam 05.30 pagi, kami langsung lanjut naik mobil pick-up carteran menuju Basecamp Bambangan. Rasanya? Luar biasa! Angin pagi yang menusuk tulang ditambah pemandangan lereng gunung bikin mata yang tadinya sepet langsung seger.
Update Budget & Administrasi BC Bambangan:
-
>Cek Kesehatan: Wajib! Kalau belum bawa surat dari rumah, bisa cek di tempat (Rp25.000).
-
>Simaksi: Sekitar Rp30.000.
-
>Materai: Harus ada satu buat surat pernyataan ketua rombongan (Beli di BC Rp15.000, kalau bawa sendiri lebih hemat!).
Bagian 2: Misi Penyelamatan Lahan & Drama "Tamu Tak Diundang"
Kami mulai jalan jam 11 siang. Tapi ya namanya juga pengen hemat tenaga, kami memutuskan naik Ojek Gunung.
-
>Ojek ke Pos 1 Bayangan: Rp45.000 (Pilihan saya, biar tetep dapet sensasi daki dikit).
-
>Ojek ke Pos 1: Rp70.000.
Percaya deh, naik ojek di trek miring itu seru sekaligus horor, broo! haha🤣
Target kami adalah Pos 5. Pada saat tiba di Pos 3 dan selesai istirahat, karena tahu hari itu ramai, tim kami pecah jadi dua. Saya masuk tim "tancap gas" buat cari lahan tenda. Benar saja, sampai di Pos 5 jam 15.30, lahan sudah PENUH! Untung ada sisa lahan yang harus dibersihkan dulu dari pohon tumbang. Bermodal cangkul portabel yang saya bawa, akhirnya tenda berdiri juga.
Drama Malam Hari: Tengah malam, hujan turun super deras. Saluran air yang kami buat jebol dan tenda kami kemasukan "tamu tak diundang" alias air banjir! Hahaha. Alhasil, malam-malam hujan-hujanan kami harus memperlebar parit tenda demi kenyamanan bersama.
Bagian 3: Summit "Kaum Wacana" & Sunrise Pelawangan
Rencana summit jam 3 pagi? Tentu saja hanya wacana karena rasa malas melanda wkwk. Kami baru mulai gerak jam 05.00 pagi!
Tapi Tuhan emang baik, pas sampai di Pos 9 (Pelawangan), kami disuguhi sunrise yang cantiknya nggak ada obat! Lautan awan membentang luas bikin rasa capek hilang seketika. Kami sampai di puncak sekitar jam 08.00 pagi.
Catatan: Batas maksimal di puncak cuma sampai jam 10.00 pagi ya, info dari petugas BC Bambangan. Jadi jangan keasyikan selfie!
Bagian 4: Kembali ke Realita (Jakarta)
Kami mulai turun dari puncak jam 9 pagi, masak sarapan di tenda, leha-leha sebentar, baru lanjut turun ke basecamp jam 14.00 siang. Sampai di basecamp jam 18.30 malam (tetep pake ojek dari Pos 1 Bayangan biar cepet wkwk).
Kami menginap semalam lagi di basecamp sebelum pulang ke Jakarta besoknya.
Tips Pulang: Datang ke Terminal Bobotsari pagi-pagi buat "war" tiket bus. Jangan kesiangan karena bus arah Jakarta jarang ada di siang hari (adanya pagi atau sore ke malam). Saya naik bus Sinar Jaya (Sinjay) seharga Rp120.000 dan sampai di Jakarta hari Minggu jam 19.00 malam.
Besoknya? Kembali ke rutinitas "Kerja, Kerja, Kerja, dan Kerja".
Pesan dari Saya:
Gunung Slamet itu treknya didominasi akar dan tanah yang licin kalau hujan. Persiapkan fisik dan mental, bawa cangkul portabel (serius, ini berguna banget!), dan jangan lupa nikmati setiap drama yang ada.
Sampai jumpa di tanjakan berikutnya!