Thekelan Bukan Sembarang Trek: Drama Gocar Gaib dan Eksplorasi 6 Puncak Merbabu!
Shandi Irawan
May 30, 2026 • 27 Views
"Merbabu via Thekelan: Jalur Klasik yang Indah, tapi Perjalanan Pulangnya Bikin Pasrah!"
Halo Sobattt! Kembali lagi di catatan perjalanan saya. Setelah sebelumnya kita sempat bahas tentang Lawu dan Slamet, kali ini saya, Maul, dan Wildan Bocil memutuskan untuk mencicipi jalur tertua dan penuh sejarah di Gunung Merbabu: Jalur Thekelan.
Pendakian ini dilakukan pada hari Rabu, 13 Mei 2026. Jalur ini terkenal legendaris karena memiliki karakteristik 7 Puncak. Penasaran bagaimana cerita kami melewati jalur "mesin waktu" ini plus drama transportasi yang hampir bikin kami tertahan di kaki gunung? Yuk, scroll ke bawah!
Bagian 1: Jakarta - Salatiga & Keberuntungan Si Bapak Driver Gocar
Perjalanan rombongan kami dimulai dari Terminal Grogol pada Rabu malam hari menuju Terminal Tingkir, Salatiga. Kami tiba hari Kamis pagi. Seperti biasa, ritual wajib di terminal adalah pelurusan punggung, packing ulang carrier, dan belanja logistik yang masih kurang.
Dari terminal menuju basecamp, kami memesan Gocar dan syukurnya dapetnya lumayan mudah. Nah, faktanya, jalur ke arah basecamp ini sebenarnya agak dihindari driver karena setelah drop penumpang ke atas, mereka biasanya harus turun lagi ke kota dengan kosongan.
Tapi hari itu, si bapak driver yang mengantarkan kami dapet rezeki nomplok. Pas banget setelah kami turun, beliau langsung dapet tarikan balik ke arah kota dari pendaki lain yang mau turun. Plot armor buat si bapak! Tapi drama gak berhenti di situ, si bapak malah sempat kebingungan dan kesusahan nyari sinyal di area basecamp buat mastiin posisi penumpangnya itu, hahaha. Untung akhirnya ketemu!
Setelah urusan Gocar beres, kami langsung registrasi ulang di Basecamp Thekelan, briefing kilat, dan bersiap jalan. Demi menghemat napas, dari basecamp sampai pintu rimba kami memutuskan naik ojek dengan tarif Rp20.000 sekali jalan. Lumayan, lutut aman untuk sementara!
Bagian 2: Sabana Indah Pos 4 & Ritual Kaum Rebahan
Pukul 09.00 pagi, pendakian yang sesungguhnya dimulai. Target camp kami hari itu adalah Pos 4. Sepanjang jalur Thekelan, mata kami bener-bener dimanjakan oleh hamparan sabana hijau yang luas dan estetik parah.
Kami tiba di Pos 4 sekitar pukul 12.30 siang. Secara waktu dan fisik, sebenarnya kami masih kuat kalau mau dipaksa naik lagi sampai Pos Pemancar. Tapi, setelah berdiskusi (dan sifat asli kaum mager keluar), kami rasa Pos 4 sudah sangat ideal untuk mendirikan tenda. Tinggal gimana pinter-pinternya kita bangun pagi buat summit besok.
Setelah rebahan sekitar 30 menit, kami mulai mendirikan tenda. Karena perut masih kenyang (efek makan bekal dari basecamp pas sebelum Pos 3 tadi), kami memutuskan TIDUR berjamaah sampai magrib menjelang. Definisi naik gunung buat pindah tidur! Hahaha.

Malam harinya, barulah dapur umum beroperasi. Karena prinsip pendakian kali ini adalah "Gaya Elit, Makan Mewah", menu makan malam kami buat se-istimewa mungkin. Setelah kenyang dan puas mengobrol, kami langsung tidur cepat untuk persiapan summit.
Bagian 3: Eksplorasi Puncak Syarif, Trianggulasi, dan Bonus Merapi
Jumat, 14 Mei. Alarm berbunyi, dan pukul 03.00 pagi kami sudah start jalan menuju puncak.
* Catatan Jalur Teknis: Buat kalian yang belum tahu, keunikan via Thekelan ini adalah adanya percabangan jalur di dekat area puncak. Jalur akan membelah: satu mengarah ke Puncak Syarif, dan satu lagi ke arah Puncak Trianggulasi.
Tujuan pertama kami adalah Puncak Syarif. Setelah menikmati suasana di sana, kami langsung tancap gas menyeberang ke Puncak Trianggulasi. Di puncak ini, pemandangan gagahnya Gunung Merapi terlihat sangat jelas, kontras, dan megah banget! Cuaca pagi itu cerah luar biasa, padahal malamnya sempat diguyur hujan deras.

Dari total 7 puncak yang ada di jalur ikonik Thekelan ini, kami berhasil menapakkan kaki di 6 puncak! Kami hanya melewatkan satu puncak saja, yaitu Puncak Ondo Rante karena pertimbangan jalur dan waktu.
Bagian 4: Drama Pick-Up Susu Sapi & Evakuasi Mandiri
Puas berfoto dan menyantap perbekalan di puncak, pukul 09.00 pagi kami mulai turun dan tiba kembali di tenda (Pos 4) sekitar pukul 10.45. Langsung masak besar, makan, leha-leha bentar, lalu packing. Pukul 13.30, kami jalan turun menuju basecamp dan tiba pukul 17.00 sore (tentu saja dari Pos 1 ke bawah kami naik ojek lagi wkwk).
Dan di sinilah DRAMA UTAMA dimulai.
Begitu sampai bawah, hujan turun deras banget. Kami mencoba memesan Gocar buat balik ke Terminal Tingkir, tapi nihil. Sejam lebih aplikasi cuma muter-muter tanpa ada driver yang nyangkut. Karena hari makin malam dan mulai kedinginan, kami akhirnya nekat mencegat dan menumpang mobil pick-up warga yang lagi keliling ngumpulin susu sapi ke arah Kopeng!
Pikir kami, di daerah Kopeng bakal lebih gampang nyari taksi online. Ternyata sama aja! Dua jam kami terlantar di Kopeng sambil terus-menerus mantengin aplikasi dan nyari tumpangan lain arah Salatiga. Sampai akhirnya, keajaiban datang: ada driver Gocar yang baru aja selesai drop penumpang di dekat posisi kami dan dia mau balik ke arah kota. Aplikasi kami langsung nyangkut! Sepanjang cerita kami cerita banyak hal dengan driver, haha.
Kami baru tiba di Terminal Tingkir sekitar pukul 21.00 malam. Karena dari awal kami sengaja beli tiket bus untuk keesokan harinya demi menghindari hal-hal tidak terduga (seperti drama Gocar ini), malam itu kami memutuskan menggelar sleeping bag dan bermalam di masjid terminal.
Bagian 5: Kembali ke Ibu Kota
Keesokan harinya, karena bus kami jadwalnya pukul 10.45 pagi, kami masih punya banyak waktu buat jalan-jalan santai di sekitar terminal, cari sarapan, dan bersih-bersih badan. Perjalanan pulang berjalan lancar, dan kami mendarat kembali di Jakarta sekitar pukul 20.00 WIB.
Tips & Pelajaran Penting dari Trip Ini:
1. Manajemen Transportasi Terikat: Jalur Thekelan itu agak terpencil. Sangat disarankan untuk menyewa jasa antar-jemput (shuttle/carteran) sejak jauh-jauh hari seperti yang saya lakukan di Lawu kemarin, daripada berspekulasi pakai aplikasi online di atas gunung.
2. Estimasi Waktu Cadangan: Langkah kami memesan tiket bus untuk hari berikutnya adalah keputusan terbaik. Kalau kami nekat beli tiket di hari yang sama dengan waktu turun, sudah pasti tiketnya hangus gara-gara drama Gocar tadi.
Overall, Merbabu via Thekelan sukses memberikan cerita yang komplit: pemandangan dapet, puncak dapet, dan dramanya pun dapet banget!
Sampai jumpa di cerita petualangan berikutnya! Keep safe and keep exploring!